Mereka berasal dari berbagai negara di seluruh dunia yang pernah mengalami penderitaan yang sama akibat kanker. Namun, kini, dengan pengobatan minimal invasif yang efektif dan layanan berkualitas tinggi dari Modern Cancer Hospital Guangzhou, mereka telah mendapatkan kembali kesehatannya dan menjadi penyintas kanker. Di sini, mereka berbagi pengalaman dan kehangatan anti kanker kepada semua orang.
“Sangat sedikit dokter lokal di Indonesia, dan jarang dapat bertemu mereka. Namun di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou, saya dapat menemukan dokter 24jam, dan rumah sakit memberi saya pelayanan medis yang komprehensif, baik dari rancanga
Berkat Intervensi, setelah kanker Stadium 4, saya bisa melanjutkan hidup dengan baik
"Saya percaya, semua yang terjadi dalam hidup saya adalah atas seijin Tuhan. Dan jika Tuhan mengijinkan hal tersebut terjadi, artinya ada sesuatu yang bisa saya pelajari dari kejadian tersebut, sehingga bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih bai
Semoga surat ini bagaikan hembusan angin pegunungan yang hangat, membawa harapan dan kekuatan, serta dengan lembut menyentuh hati kalian. Sembilan tahun lalu, saya didiagnosis menderita kanker serviks stadium IV. Tumor telah menyebar ke hati, rektum, dan kandung kemih. Dulu saya pernah menjadi seorang pelari maraton yang berlomba di seluruh dunia, namun tiba-tiba saya bahkan merasa takut untuk berdiri. Namun hari ini, saya dapat membagikan kisah saya justru karena saya bertemu dengan Anda semua—
Pada 28 Oktober 2025, seorang anggota keluarga yang telah lama tidak berkunjung, kembali menapakkan kaki di Modern Cancer Hospital Guangzhou—Dedi Irwan Sugianto dari Jember, Indonesia. Sudah genap dua belas tahun sejak ia berhasil mengalahkan limfoma Hodgkin. Ketika ia kembali memasuki rumah sakit yang pernah memberinya kehidupan baru, di tangannya tergenggam foto-foto lamanya bersama para dokter dan perawat, sementara matanya berkilau dengan air mata dan senyum. Momen itu bukan hanya sebuah p
Delapan tahun lalu, ia terbang dari Provinsi Riau, Indonesia, menuju Tiongkok, hanya membawa setumpuk tebal rekam medis dan segudang tanda tanya penuh kecemasan;Delapan tahun kemudian, ia kembali menginjak tanah yang familiar ini dengan tubuh yang sehat dan senyum yang hangat—Modern Cancer Hospital Guangzhou. “Delapan tahun telah berlalu, saya masih penuh semangat. Ini bukan hanya keajaiban medis, tetapi juga kekuatan hati manusia.” — Nurdin Tahun 2017 ketika Dinyatakan “Tidak Ada Hara
Pada 28 Oktober 2025, di lokasi acara reuni penyintas kanker di Modern Cancer Hospital Guangzhou, seorang pria lansia asal Indonesia yang tampak penuh semangat menarik perhatian banyak orang. Ia adalah Lukman Holy, 73 tahun, seorang pejuang yang telah bertahun-tahun melawan kanker nasofaring. Berdiri di aula rumah sakit yang sudah familiar baginya, matanya berkilau penuh kegembiraan. “Bisa kembali ke tempat yang membuat saya menemukan hidup baru ini, rasa syukur di hati saya sulit diungkapkan
"Alhamdulillah! Ketika orang di seberang telepon memberi tahu bahwa saya diundang kembali ke rumah sakit, saya sampai mengecek berkali-kali—ternyata benar! Saya sangat bersemangat!” Di depan kamera, Elang Mochamad Haeruddin tersenyum cerah dengan suara lantang. Siapa sangka, pria penuh energi yang gemar bersepeda di pegunungan dan main golf ini pernah didiagnosis kanker paru stadium II sepuluh tahun lalu? Hari ini, sepuluh tahun kemudian, ia kembali ke Modern Cancer Hospital Guangzhou sebaga
Sepuluh tahun lalu, sebuah surat diagnosis multiple myeloma membuat Agus Suhaemi dari Jakarta, Indonesia, merasa kehilangan arah tentang masa depannya. Sepuluh tahun kemudian, ketika ia kembali ke Modern Cancer Hospital Guangzhou, kehangatan yang familiar menyambutnya seperti pulang ke rumah. Dalam kunjungan kali ini, ia dengan gembira mendapati bahwa rumah sakit telah menyempurnakan berbagai fasilitas RS, seperti ruang ibadah dan menu halal. Penghormatan lintas budaya ini membuat seorang Muslim
Pada Maret 2025, pasien mengalami demam, dan gejalanya membaik setelah perawatan anti-inflamasi. Satu minggu kemudian ditemukan massa di leher bagian kanan, tanpa nyeri. Pemeriksaan CT bagian leher menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening. Pada 8 Mei 2025 dilakukan biopsi kelenjar getah bening leher, hasilnya menunjukkan kemungkinan adenokarsinoma metastatik, kemungkinan berasal dari kanker paru non-sel kecil. Pasien belum menjalani pengobatan antikanker apa pun. Baru-baru ini massa di leher semakin membesar. Untuk pengobatan lebih lanjut, pasien datang ke rumah sakit kami pada 30 Mei 2025. Diagnosis patologi: adenokarsinoma paru metastatik. Setelah menjalani pengobatan komprehensif minimal invasif, hingga Agustus 2025 tumor pasien mengecil dan penanda tumor kembali ke tingkat normal.
Ketika Hendrik Chandra Tjhan, 58 tahun, didiagnosis menderita kanker prostat tanpa gejala apa pun, yang ia takuti bukan hanya penyakitnya, tetapi juga kehilangan martabatnya sebagai seorang pria. Setelah menjalani Brachytherapy Minimal Invasif di Tiongkok, tumor berukuran 2,6×3×2cm hampir sepenuhnya menghilang. “Hal yang paling saya syukuri adalah, tidak ada komplikasi. Saya tetaplah diri saya yang utuh.” Pengobatan tersebut tidak hanya menyingkirkan kanker, tetapi juga menjaga martabat dan perannya dalam keluarga.
Pada bulan April 2025, pasien didiagnosis menderita kanker paru sel kecil dengan tumor di paru kanan berukuran 8,1×5,9×7,8cm. Setelah menjalani pengobatan integratif Timur dan Barat di rumah sakit kami, yang berfokus pada embolisasi intervensi, ukuran tumor mengecil sekitar 60%, menjadi 3,6×4cm. Setelah siklus terapi keempat, evaluasi menunjukkan hasil PR (Respons Parsial). Saat ini, gejala batuk berdahak dan sesak napas telah banyak membaik, dan pasien tidak lagi memerlukan alat bantu oksigen, mampu bernapas dengan stabil secara mandiri.
Berdiri di Tepi Jurang Kehidupan, Ia Menolak Menyerahkan Kedaulatan atas Tubuhnya Saat hidup dihadapkan pada pilihan, ia berkata: “Saya tidak akan merelakan payudara saya,juga tidak akan melepaskan harapan untuk tetap hidup.” Lazzat adalah seorang pengacara wanita terkenal berusia 47 tahun dari Kazakhstan, Di pengadilan, ia tampil dengan percaya diri dan tenang,berjuang tanpa henti demi hak-hak kliennya. Selama bertahun-tahun, ia menjalani ritme kerja yang sangat intens dan terbiasa mengabai
Evelina Dian Mayasari, pasien kanker payudara stadium lanjut asal Indonesia, menderita tumor metastasis di hati sebesar 16cm. Enzim hatinya 10 kali lipat di atas normal sehingga tidak memungkinkan menjalani kemoterapi. Ia hanya bisa makan satu sendok per hari dan berada di ambang keputusasaan. Setelah tiba di rumah sakit kami, tim MDT merumuskan pengobatan Minimal Invasif komprehensif: terapi perlindungan hati, Intervensi, dan Terapi target. Setelah dua kali pengobatan presisi, tumor hati menyusut menjadi 2cm. Ia mendapatkan kembali nafsu makan dan vitalitasnya, hingga teman-temannya terkejut dan mengatakan, “Ia tidak terlihat seperti pasien.” Dengan penuh haru, ia berkata: "Pengobatan dan mentalitas harus seirama seperti dansa tango—di sinilah harapan hidup saya kembali menyala."
“Saya telah berjuang melawan kanker di Thailand selama 5 tahun. Kemoterapi dan operasi membuat tubuh saya rusak parah. Penyakitku kadang membaik sedikit, tapi secara keseluruhan semakin memburuk. Keadaan saya begitu parah sampai hanya bisa terbaring di tempat tidur, setiap hari seperti menunggu ajal. Datang ke Tiongkok untuk mencoba pengobatan adalah harapan terakhir saya,” ujar Paman Lek (nama samaran) dengan nada emosional saat menceritakan kisah perjuangannya melawan kanker. Paman Lek, pria berusia 63 tahun asal Thailand, datang ke rumah sakit kami pada Februari 2025 untuk menjalani pemeriksaan. Ia didiagnosis kanker kandung kemih dengan beberapa metastasis pascaoperasi, kondisi tumor di paru cukup serius.
Nama saya Hery (nama samaran), asal Indonesia. Tahun ini saya berusia 75 tahun dan saya adalah seorang pasien kanker paru. Saat mengetahui bahwa saya mengidap kanker, saya merasa takut dan tak berdaya. Untungnya, saya bertemu dengan tim medis yang penuh perhatian, yang merancang rencana pengobatan Minimal Invasif terintegrasi yang sesuai untuk saya. Saya juga bersyukur karena keluarga saya selalu memberikan perhatian dan dukungan sepenuh hati. Sepanjang perjalanan ini, tantangan apa pun yang saya hadapi, mereka selalu menggenggam tangan saya erat-erat.
Yip Woon Thing, berasal dari Malaysia, seorang pasien kanker payudara stadium IV. Setelah didiagnosis pada awal tahun 2025, tumornya membesar hingga mengalami ulserasi, sementara pengobatan di RS setempat tidak menunjukkan hasil. Pada akhir Maret, ia datang ke Modern Cancer Hospital Guangzhou untuk menjalani pengobatan Minimal Invasif yang terintegrasi. Dua bulan kemudian, kondisinya membaik dan tumornya terus menyusut.
Pasien asal Indonesia bernama Rosita Nurhajati, berusia 87 tahun, mengalami penyebaran tumor usus besar ke ujung vagina yang tersisa dan dinding belakang kandung kemih, sehingga kondisinya cukup rumit. Pada Februari 2025, beliau menjalani Brachytherapy Minimal Invasif di Modern Cancer Hospital Guangzhou. Setelah pengobatan, ukuran tumor mengecil dari 3,7×5,4cm menjadi 2,4cm, dan tiga bulan kemudian hilang sepenuhnya tanpa efek samping yang jelas. Kondisi keseluruhannya pun mengalami perbaikan yang signifikan.
Lorraine, berasal dari Australia, adalah seorang pasien kanker payudara. Setelah didiagnosis, penyakitnya berkembang dengan cepat dan cukup parah, hingga para dokter di negaranya tidak mampu lagi memberikan solusi. Namun, setelah menjalani pengobatan minimal invasif integratif di Modern Cancer Hospital Guangzhou, kondisinya terus menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Any dari Indonesia didiagnosis menderita kanker payudara saat hamil. Demi menjaga kandungannya, ia menunda pengobatan. Setelah melahirkan, tumornya membesar drastis hingga mencapai 28cm. Setelah menjalani mastektomi total, ia tidak menjalani radioterapi karena menyusui, yang menyebabkan kekambuhan dan kondisi memburuk. Ia kemudian mencari pengobatan lintas negara ke Modern Cancer Hospital Guangzhou, saat itu tumornya telah membusuk dan membesar hingga 29cm. Tim MDT melakukan pengobatan intervensi untuk mengecilkan tumor dan operasi reseksi R0. Setelah operasi, indikator kesehatan pasien stabil dan kondisinya saat ini baik.
Chong Chee Wei, 46 tahun, asal Malaysia, didiagnosis kanker nasofaring stadium IV dengan metastasis ke kelenjar getah bening leher pada Oktober 2023. Setelah menjalani radioterapi dan kemoterapi konvensional di negaranya, hasil pengobatan tidak memuaskan. Pada April 2024, ia datang ke Modern Cancer Hospital Guangzhou untuk menjalani pengobatan dan menerima 4 kali terapi intervensi dan terapi target, yang dikombinasikan dengan 1 kali penanaman biji partikel. Setelah rangkaian pengobatan tersebut, tumornya menyusut hingga dua pertiga, dan kondisi fisiknya menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Setelah didiagnosis menderita kanker nasofaring, Tan Soy Mok, seorang warga Tionghoa Malaysia, pergi ke Modern Cancer Hospital Guangzhou untuk menjalani pengobatan yang dipersonalisasi berupa kemoterapi intervensi yang dikombinasikan dengan radioterapi presisi. Melalui 6 kali pengobatan intervensi minimal invasif dan 30 kali radioterapi presisi, tumor di bagian nasofaring yang berukuran 3,8x2,7cm sepenuhnya menghilang tanpa kekambuhan. Gejala mimisan pun hilang, dan hidung tersumbat juga membaik secara signifikan. Kini Tan Soy Mok telah kembali menjalani kehidupan normal dan secara sukarela menjadi duta kesehatan rumah sakit, membantu lebih banyak pasien internasional mendapatkan kehidupan baru.
NyeriKanker selaluMembayangi,KegagalanKemoterapi Melelahkan Fisik dan Mental Pada Juli 2024, Ny.Lee Ying Nhoryang berusia 69 tahun awalnya menikmati masa pensiunnya dengan tenang di Pulau Borneo, Malaysia. Namun ketenangan itu mendadak hancur akibat kesulitan menelan, hilangnya nafsu makan, dan nyeri perut.Dalam hitungan bulan, ketidaknyamanan ringan berubah menjadi kondisi serius: berat badan turun drastis, tidak bisa makan dengan normal, kesulitan berbicara, dan nyeri perut yang terus-menerus
Hazel Tan Go dari Filipina tiba-tiba mengalami kesulitan menelan dan tidak bisa makan. Setelah menjalani pemeriksaan, ia didiagnosis menderita limfoma non-Hodgkin. Berdasarkan pengalaman sukses anggota keluarga yang pernah berobat di Modern Cancer Hospital Guangzhou, ia dengan tegas memilih pengobatan lintas negara. Setelah menjalani pengobatan minimal invasif komprehensif, gejala sesak napas dan kesulitan menelan hilang, dan ia berhasil mendapatkan kembali kemampuan berbicaranya.
Mereka berasal dari berbagai negara di seluruh dunia yang pernah mengalami penderitaan yang sama akibat kanker. Namun, kini, dengan pengobatan minimal invasif yang efektif dan layanan berkualitas tinggi dari Modern Cancer Hospital Guangzhou, mereka telah mendapatkan kembali kesehatannya dan menjadi penyintas kanker. Di sini, mereka berbagi pengalaman dan kehangatan anti kanker kepada semua orang.
Berkat Intervensi, setelah kanker Stadium 4, saya bisa melanjutkan hidup dengan baik
"Saya percaya, semua yang terjadi dalam hidup saya adalah atas seijin Tuhan. Dan jika Tuhan mengijinkan hal tersebut terjadi, artinya ada sesuatu yang bisa saya pelajari dari kejadian tersebut, sehingga bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih bai
“Sangat sedikit dokter lokal di Indonesia, dan jarang dapat bertemu mereka. Namun di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou, saya dapat menemukan dokter 24jam, dan rumah sakit memberi saya pelayanan medis yang komprehensif, baik dari rancanga
Semoga surat ini bagaikan hembusan angin pegunungan yang hangat, membawa harapan dan kekuatan, serta dengan lembut menyentuh hati kalian. Sembilan tahun lalu, saya didiagnosis menderita kanker serviks stadium IV. Tumor telah menyebar ke hati, rektum, dan kandung kemih. Dulu saya pernah menjadi seorang pelari maraton yang berlomba di seluruh dunia, namun tiba-tiba saya bahkan merasa takut untuk berdiri. Namun hari ini, saya dapat membagikan kisah saya justru karena saya bertemu dengan Anda semua—
Pada 28 Oktober 2025, seorang anggota keluarga yang telah lama tidak berkunjung, kembali menapakkan kaki di Modern Cancer Hospital Guangzhou—Dedi Irwan Sugianto dari Jember, Indonesia. Sudah genap dua belas tahun sejak ia berhasil mengalahkan limfoma Hodgkin. Ketika ia kembali memasuki rumah sakit yang pernah memberinya kehidupan baru, di tangannya tergenggam foto-foto lamanya bersama para dokter dan perawat, sementara matanya berkilau dengan air mata dan senyum. Momen itu bukan hanya sebuah p
Delapan tahun lalu, ia terbang dari Provinsi Riau, Indonesia, menuju Tiongkok, hanya membawa setumpuk tebal rekam medis dan segudang tanda tanya penuh kecemasan;Delapan tahun kemudian, ia kembali menginjak tanah yang familiar ini dengan tubuh yang sehat dan senyum yang hangat—Modern Cancer Hospital Guangzhou. “Delapan tahun telah berlalu, saya masih penuh semangat. Ini bukan hanya keajaiban medis, tetapi juga kekuatan hati manusia.” — Nurdin Tahun 2017 ketika Dinyatakan “Tidak Ada Hara
Pada 28 Oktober 2025, di lokasi acara reuni penyintas kanker di Modern Cancer Hospital Guangzhou, seorang pria lansia asal Indonesia yang tampak penuh semangat menarik perhatian banyak orang. Ia adalah Lukman Holy, 73 tahun, seorang pejuang yang telah bertahun-tahun melawan kanker nasofaring. Berdiri di aula rumah sakit yang sudah familiar baginya, matanya berkilau penuh kegembiraan. “Bisa kembali ke tempat yang membuat saya menemukan hidup baru ini, rasa syukur di hati saya sulit diungkapkan
"Alhamdulillah! Ketika orang di seberang telepon memberi tahu bahwa saya diundang kembali ke rumah sakit, saya sampai mengecek berkali-kali—ternyata benar! Saya sangat bersemangat!” Di depan kamera, Elang Mochamad Haeruddin tersenyum cerah dengan suara lantang. Siapa sangka, pria penuh energi yang gemar bersepeda di pegunungan dan main golf ini pernah didiagnosis kanker paru stadium II sepuluh tahun lalu? Hari ini, sepuluh tahun kemudian, ia kembali ke Modern Cancer Hospital Guangzhou sebaga
Sepuluh tahun lalu, sebuah surat diagnosis multiple myeloma membuat Agus Suhaemi dari Jakarta, Indonesia, merasa kehilangan arah tentang masa depannya. Sepuluh tahun kemudian, ketika ia kembali ke Modern Cancer Hospital Guangzhou, kehangatan yang familiar menyambutnya seperti pulang ke rumah. Dalam kunjungan kali ini, ia dengan gembira mendapati bahwa rumah sakit telah menyempurnakan berbagai fasilitas RS, seperti ruang ibadah dan menu halal. Penghormatan lintas budaya ini membuat seorang Muslim
Pada Maret 2025, pasien mengalami demam, dan gejalanya membaik setelah perawatan anti-inflamasi. Satu minggu kemudian ditemukan massa di leher bagian kanan, tanpa nyeri. Pemeriksaan CT bagian leher menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening. Pada 8 Mei 2025 dilakukan biopsi kelenjar getah bening leher, hasilnya menunjukkan kemungkinan adenokarsinoma metastatik, kemungkinan berasal dari kanker paru non-sel kecil. Pasien belum menjalani pengobatan antikanker apa pun. Baru-baru ini massa di leher semakin membesar. Untuk pengobatan lebih lanjut, pasien datang ke rumah sakit kami pada 30 Mei 2025. Diagnosis patologi: adenokarsinoma paru metastatik. Setelah menjalani pengobatan komprehensif minimal invasif, hingga Agustus 2025 tumor pasien mengecil dan penanda tumor kembali ke tingkat normal.
Bunchuan Chaemdi adalah seorang pasien asal Thailand, pada tahun 2012 ia terdiagnosa kanker usus besar. Setelah menjalani operasi dan kemoterapi selama beberapa tahun, kondisinya semakin parah, mencapai stadium 4 dan ada banyak penyebaran. Pada April
Ketika Hendrik Chandra Tjhan, 58 tahun, didiagnosis menderita kanker prostat tanpa gejala apa pun, yang ia takuti bukan hanya penyakitnya, tetapi juga kehilangan martabatnya sebagai seorang pria. Setelah menjalani Brachytherapy Minimal Invasif di Tiongkok, tumor berukuran 2,6×3×2cm hampir sepenuhnya menghilang. “Hal yang paling saya syukuri adalah, tidak ada komplikasi. Saya tetaplah diri saya yang utuh.” Pengobatan tersebut tidak hanya menyingkirkan kanker, tetapi juga menjaga martabat dan perannya dalam keluarga.
Pada bulan April 2025, pasien didiagnosis menderita kanker paru sel kecil dengan tumor di paru kanan berukuran 8,1×5,9×7,8cm. Setelah menjalani pengobatan integratif Timur dan Barat di rumah sakit kami, yang berfokus pada embolisasi intervensi, ukuran tumor mengecil sekitar 60%, menjadi 3,6×4cm. Setelah siklus terapi keempat, evaluasi menunjukkan hasil PR (Respons Parsial). Saat ini, gejala batuk berdahak dan sesak napas telah banyak membaik, dan pasien tidak lagi memerlukan alat bantu oksigen, mampu bernapas dengan stabil secara mandiri.
Berdiri di Tepi Jurang Kehidupan, Ia Menolak Menyerahkan Kedaulatan atas Tubuhnya Saat hidup dihadapkan pada pilihan, ia berkata: “Saya tidak akan merelakan payudara saya,juga tidak akan melepaskan harapan untuk tetap hidup.” Lazzat adalah seorang pengacara wanita terkenal berusia 47 tahun dari Kazakhstan, Di pengadilan, ia tampil dengan percaya diri dan tenang,berjuang tanpa henti demi hak-hak kliennya. Selama bertahun-tahun, ia menjalani ritme kerja yang sangat intens dan terbiasa mengabai
Evelina Dian Mayasari, pasien kanker payudara stadium lanjut asal Indonesia, menderita tumor metastasis di hati sebesar 16cm. Enzim hatinya 10 kali lipat di atas normal sehingga tidak memungkinkan menjalani kemoterapi. Ia hanya bisa makan satu sendok per hari dan berada di ambang keputusasaan. Setelah tiba di rumah sakit kami, tim MDT merumuskan pengobatan Minimal Invasif komprehensif: terapi perlindungan hati, Intervensi, dan Terapi target. Setelah dua kali pengobatan presisi, tumor hati menyusut menjadi 2cm. Ia mendapatkan kembali nafsu makan dan vitalitasnya, hingga teman-temannya terkejut dan mengatakan, “Ia tidak terlihat seperti pasien.” Dengan penuh haru, ia berkata: "Pengobatan dan mentalitas harus seirama seperti dansa tango—di sinilah harapan hidup saya kembali menyala."
Pasien asal Indonesia bernama Rosita Nurhajati, berusia 87 tahun, mengalami penyebaran tumor usus besar ke ujung vagina yang tersisa dan dinding belakang kandung kemih, sehingga kondisinya cukup rumit. Pada Februari 2025, beliau menjalani Brachytherapy Minimal Invasif di Modern Cancer Hospital Guangzhou. Setelah pengobatan, ukuran tumor mengecil dari 3,7×5,4cm menjadi 2,4cm, dan tiga bulan kemudian hilang sepenuhnya tanpa efek samping yang jelas. Kondisi keseluruhannya pun mengalami perbaikan yang signifikan.
Chen Peiling berasal dari Malaysia, pada tahun 2015 ia terdiagnosa kanker parotis, setelah menjalani dua kali operasi, kankernya menyebar ke jaringan kelopak mata bagian bawah. Untuk menyelamatkan matanya, ia datang ke St. Stamford Modern Cancer Hospi
“Saya telah berjuang melawan kanker di Thailand selama 5 tahun. Kemoterapi dan operasi membuat tubuh saya rusak parah. Penyakitku kadang membaik sedikit, tapi secara keseluruhan semakin memburuk. Keadaan saya begitu parah sampai hanya bisa terbaring di tempat tidur, setiap hari seperti menunggu ajal. Datang ke Tiongkok untuk mencoba pengobatan adalah harapan terakhir saya,” ujar Paman Lek (nama samaran) dengan nada emosional saat menceritakan kisah perjuangannya melawan kanker. Paman Lek, pria berusia 63 tahun asal Thailand, datang ke rumah sakit kami pada Februari 2025 untuk menjalani pemeriksaan. Ia didiagnosis kanker kandung kemih dengan beberapa metastasis pascaoperasi, kondisi tumor di paru cukup serius.
Nama saya Hery (nama samaran), asal Indonesia. Tahun ini saya berusia 75 tahun dan saya adalah seorang pasien kanker paru. Saat mengetahui bahwa saya mengidap kanker, saya merasa takut dan tak berdaya. Untungnya, saya bertemu dengan tim medis yang penuh perhatian, yang merancang rencana pengobatan Minimal Invasif terintegrasi yang sesuai untuk saya. Saya juga bersyukur karena keluarga saya selalu memberikan perhatian dan dukungan sepenuh hati. Sepanjang perjalanan ini, tantangan apa pun yang saya hadapi, mereka selalu menggenggam tangan saya erat-erat.
Yip Woon Thing, berasal dari Malaysia, seorang pasien kanker payudara stadium IV. Setelah didiagnosis pada awal tahun 2025, tumornya membesar hingga mengalami ulserasi, sementara pengobatan di RS setempat tidak menunjukkan hasil. Pada akhir Maret, ia datang ke Modern Cancer Hospital Guangzhou untuk menjalani pengobatan Minimal Invasif yang terintegrasi. Dua bulan kemudian, kondisinya membaik dan tumornya terus menyusut.
Lorraine, berasal dari Australia, adalah seorang pasien kanker payudara. Setelah didiagnosis, penyakitnya berkembang dengan cepat dan cukup parah, hingga para dokter di negaranya tidak mampu lagi memberikan solusi. Namun, setelah menjalani pengobatan minimal invasif integratif di Modern Cancer Hospital Guangzhou, kondisinya terus menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Seorang lansia asal Indonesia bernama Justine Supit, berusia 83 tahun, didiagnosis menderita kanker payudara. Setelah pengobatan di dalam negeri tidak membuahkan hasil, beliau dirujuk ke rumah sakit kami. Setelah menjalani empat kali kemoterapi infus arteri, tumor berukuran 7×8cm menunjukkan penyusutan yang signifikan, nyeri berkurang, dan gejala membaik secara nyata. Kasus ini sepenuhnya menunjukkan bahwa pasien kanker lanjut usia masih memiliki peluang untuk mendapatkan layanan medis berkualitas tinggi, sekaligus mencerminkan kekuatan teknologi serta kehangatan humanistik di rumah sakit kami.
Chong Chee Wei, 46 tahun, asal Malaysia, didiagnosis kanker nasofaring stadium IV dengan metastasis ke kelenjar getah bening leher pada Oktober 2023. Setelah menjalani radioterapi dan kemoterapi konvensional di negaranya, hasil pengobatan tidak memuaskan. Pada April 2024, ia datang ke Modern Cancer Hospital Guangzhou untuk menjalani pengobatan dan menerima 4 kali terapi intervensi dan terapi target, yang dikombinasikan dengan 1 kali penanaman biji partikel. Setelah rangkaian pengobatan tersebut, tumornya menyusut hingga dua pertiga, dan kondisi fisiknya menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Any dari Indonesia didiagnosis menderita kanker payudara saat hamil. Demi menjaga kandungannya, ia menunda pengobatan. Setelah melahirkan, tumornya membesar drastis hingga mencapai 28cm. Setelah menjalani mastektomi total, ia tidak menjalani radioterapi karena menyusui, yang menyebabkan kekambuhan dan kondisi memburuk. Ia kemudian mencari pengobatan lintas negara ke Modern Cancer Hospital Guangzhou, saat itu tumornya telah membusuk dan membesar hingga 29cm. Tim MDT melakukan pengobatan intervensi untuk mengecilkan tumor dan operasi reseksi R0. Setelah operasi, indikator kesehatan pasien stabil dan kondisinya saat ini baik.